PERHITUNGAN CAIRAN, PENGUKURAN ASUPAN DAN KELUARAN CAIRAN




PERHITUNGAN CAIRAN, PENGUKURAN ASUPAN DAN KELUARAN CAIRAN

2.1. Proporsi Cairan Tubuh
            Air memiliki presentase yang besar dari badan manusia. Pada bayi prematur sekitar 80% dari barat badannya adalah air. Sedangkan pada bayi yang lahir cukup sekitar 70% dari berat badannya merupakan air. Seiring dengan bertumbuhnya usia maka presentase air menurun. Pada orang dewasa laki-laki kira-kira 60% dari berat badannya adalah air. Sedangkan pada wanita dewasa sekitar 50% adalah air. Presentase air pada tubuh lansia kira-kira 45% sampai 55% dari berat badannya. (Horner dan Swearingen.2001).
            Cairan di dalam tubuh manusia tidaklah terkumpul didalam satu tempat saja, melainkan didistribusikan kedalam dua ruangan utama yakni cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang terdapat didalam sel denganm jumlah sekita 40% dari berat badan, dan merupakan bagian dari protoplasma. Pada intraseluler ini terjadi proses metabolisme.
            Cairan ekstraseluler adalah cairan yang terdapat diluar sel dengan jumlah sekitar 20% dari berat badan dan berperan dalam memberi bahan makanan bagi sel dan membuang sampah sisa metabolisme. Cara ekstraseluler ini terbagi menjadi dua, yaitu cairan intersitial dan cairan intravaskuler. Cairan intersitial adalah cairan yang terdapat pada celah antarsel atau disebut pula cairan jaringan, berjumlah sekitar 15%  dari berat badan. Pada umumnya cairan intrasitial berfungsi sebagai pelumas agar tidak terjadi gesekan pada saat dua jaringan tersebut bergerak. Contoh dari cairan intersitial yaitu cairan pleura, cairan perikardial dan cairan peritoneal. Cairan intravaskuler merupakan cairna yang terdapat didalam pembuluh darah dan merupakan plasma yang berjumlah sekitar 5% dari berat badan.

2.2. Komponen Cairan
1. Cairan Nutrien
Cairan nutrien (zat gizi) melalui intravena dapat memenuhi kalori dalam bentuk karbohidrat, nitrogen, dan vitaminn yang penting untuk metabolisme. Kalori Yng berada cairan dapat berkisar antara 200-1500 kalori perliter.
Cairan nutrien terdiri atas :
§  Karbohidrat dan air, contoh : dextrose (glukosa), levulose (fruktosa), invert sugar (½ dextrose dan ½ levulose)
§  Asam amino, contoh : amigen, amonosol, dan travamin
§  Lemak, contoh : lipomul dan liposyn.
1.    Blood Volume Expanders
                 Blood volume eksanders merupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi untuk meningkatkan volume pembuluh darah setelah kehilangan darah atau plasma. Jenis blood volume expanders antara lain human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.
2.    Cairan Elektrolit
                 Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap dengan bermacam-macam elektrolit. Cairan saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik dan hipertonik.
                 Contoh cairan elektrolit adalah :
§  Cairan Ringer’s, terdiri atas : Na+, K+, Cl-, Ca2+
§  Cairan Ringer’s Laktat, terdidri atas : Na+, K+, Mg+, Cl-, Ca2+, HCO3-
§  Cairan Buffer’s, terdiri atas : Na+, K+, Mg2+, Cl-, HCO3-
2.3. Pengaturan Volume Cairan Tubuh
            Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan jumlah cairan yang keluar.
2.3.1.      Asupan Cairan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah ±2500 cc per hari. Asupan cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain. Pengaturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus dalam rangka mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan volume cairan tubuh yang dimana asupan cairan kurang atau adanya perdarahan, maka curah jantung menurun, menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah.
2.3.2.      Pengeluaran Cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan cairan pada orang dewasa, dalam kondisi normal adalah ±2300 cc. Jumlah air yang paling banyak keluar berasal dari ekskresi ginjal (berupa urine), sebanyak ±1500 cc per hari pada orang dewasa. Hal ini juga dihubungkan dengan banyaknya asupan air melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan pengeluaran air melalui ginjal mudah diukur, dan sering dilakukan dalam praktik klinis. Pengeluaran cairan dapat pula dilakukan melalui kulit (berupa keringat) dan saluran pencernaan (berupa feses).
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan pengawasan asupan dan pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan, demam, keringat, dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan. Kondisi lain yang dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara terus-menerus.
Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:
1.      Urine
      Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria. Proses ini merupakan proses pengeluaranm cairan tubuh yang utama. Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus dan dalam tubulus ginjal untuk kemudian diserap kembali ke dalam aliran darah. Hasil eksresi terakhir proses ini adalah urine.
      Jika terjadi pennurunan volume dalam sirkulasi darah, reseptor antrium jantung kiri dan kanan akan mengirimkan impuls ke otak, kemudian otak akan mengirimkan impuls kembali ke ginjal dan memproduksi ADH sehingga memengaruhi pengeluaran urine.
2.      Keringat
      Keringat terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat dapat mengandung garam, urea, asam laktat, dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan memengaruhi kadar natrium dalam plasma.
3.      Feses
      Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Pengeluaran air melalui feses merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui feses jumlahnya berlebihan, maka dapat menyebabkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata pengeluaran cairan memalui feses adalah 100 ml/hari.

2.4. Metode Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
            Keseimbangan cairan dalam tubuh tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengganggu vitalitas fungsional tubuh. Apabila tidak segera ditanggulangi maka akan menyebabkan kematian. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional harus tanggap dan cakap dalam mengatasi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
            Perawat harus memiliki kompetensi yang baik dalam beberapa hal terkait dengan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit guna penanggulangan gangguan cairan dan elektrolit. Kompotensi tersebut meliputi terapi intravena, mengukur intake dan output cairan, dan transfusi darah.
2.4.1. Menghitung Cairan Intravena (Infus)
            Pemberian cairan intravena yaitu memasukkan cairan atau obat langsung kedalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu dengan menggunakan infus set. Tindakan ini dilakukan pada klien dengan dehidrasi, sebelum transfusi darah, pra dan pasca bedah sesuai pengobatan, serta klien yang tidak bisa makan dan minum melaui mulut.
Prosedur kerja :
1.      Observasi kepatenan selang dan jarum IV
a.       Buka pengatur tetesan dan observasi kecepatan aliran cairan dan larutan IV ke dalam bilik tetesan dan kemudian tutup pengatur tetesan apabila kecepatan telah sesuai dengan yang diprogramkan.
b.      Apabila cairan tidak mengalir, rendahkan botol kantung cairan IV sampai lebih rendah dari tempat masuknya infus dan observasi adanya aliran balik darah.
2.      Periksa catatan medis untuk pemberian larutan dan zat aditif yang tepat. Program yang biasa di resepkan ialah pemberian larutan selama 24jam, biasanya dibagi ke dalam 2 sampai 3 L. Kadangkala program pemberian IV hanya berisi 1 L untuk mempertahankan vena tetap terbuka (KVO). Catatan juga memperlihatkan waktu yang diperlukan untuk menginfuskan setiap liter cairan.
3.      Kenali faktor tetesan dalam bentuk banyaknya tetesan/ml (tts/ml) dari sebuah set infus, misalnya :
§  Mikrodrip (tetes mikro) : 60 tts/ml
§  Makrodrip (tetes makro), yang terdiri dari :
-       Abbott Lab : 15 tts/ml
-       Travenol Lab : 10 tts/ml
-       McGaw Lab : 15 tts/ml
-       Baxter         :  10 tts/ml
4.      Pilih salah satu formula berikut untuk menghitung kecepatan aliran ( tts/ml) setelah menghitug jumah ml/ jam jika dibutuhkan.
Volume total (ml) ÷ jam pemberian infus = ml/jam
a.                       ml/jam ÷ 60 menit = tts/mnt
b.                      ml/jam x faktor tetes ÷ 60 menit = tts/mnt
5.      Apabila digunakan pompa infus atau peralatan pengontrol volume, tempatkan alat tersebut di sisi tempat tidur.
6.      Tentukan kecepatan per jam dengan membagi volume dengan jam.
Contohnya :
1000 ml ÷ 8 jam = 125 ml/jam atau jika 4 L diprogramkan untuk 24 jam, maka :
  4000 ml ÷ 24 jam = 166,7 atau 167 ml/jam
7.       Tempelkan label volume secara vertikal pada botol atau kantung IV di sebelah garis penunjuk volume. Beri tanda plester berdasarkan kecepatan aliran perjam.
Misalnya : Jika seluruh volume cairan akan diinfuskan dalam 8,10, dan 12 jam, masing-masing ukuran tersebut akan ditandai dengan plester.
8.   Setelah kecepatan perjam ditetapkan, hitung kecepatan permenit berdasarkan faktor tetes didalam set infus. Set infus minidrip ini memiliki faktor tetes 60 tts/ml. Tetesan yang biasa digunakan atau makrodrip yang digunakan pada contoh ini memiliki faktor tetes 15 tetes/ml. Dengan menggunakan rumus, hitung kecepatan aliran permenit :
Contoh kasus :
Botol 1 : mengalirkan 125 ml/jam
Mikrodrip :
Makrodrip :
9.   Hitung kecepatan aliran dengan menghitung jumlah tetesan di dalam bilik tetesan selama 1 menit dengan menggunakan jam tangan dan kemudian atur klem penggeser untuk meningkatkan atau menurunkan kecepatan infus. Ulangi sampai kecepatan aliran akurat.
10.  Ikuti prosedur ini untuk ;
a.       Pompa infus :
(1). Tempatkan monitor elektronik pada bilik tetesan di bawah asal tetesan dan di atas tinggi cairan di dalam bilik.
(2). Tempatkan selang infus IV dengan bagian atas kotak pengontrol searah dengan aliran (mis. Di bagian atas, bagian selang terdekat, dengan klien). Pilih jumlah tts/mnt atau volume/jam, pintu untuk mengontrol bilik ditutup, nyalakan tombol daya dan tekan tombol start untuk memulai.
(3). Pastikan bahwa alat pengukur kecepatan. Tetesan pada selang infus berada pada posisi terbuka saat pompa infus digunkan.
(4). Pantau kecepatan infus sekurang-kurangnya setiap jam.
(5). Kaji kepatenan sistem IV ketika alarm berbunyi.
b. Peralatan pengontrol volume
(1). Tempatkan peralatan pengontrol volume diantara kantung IV dan isertion spike dan set infus
(2). Masukan cairan yang akan diberikan dalam 2 jam ke dalam peralatan tersebut.
(3). Kaji sistem IV sekurang-kurangnya setiap jam sekali dan tambahkan cairan ke dalam peralatan. Atur kecepatan aliran.
11.  Observasi klien setiap jam untuk menentukan respons terhadap terapi IV dan upaya memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. Juga periksa daerah pemasangan IV untuk melihat adanya tanda-tanda infiltrasi, inflamasi dan plebitis.
12. Catat kecepatan infus, tts/mnt, dan ml/jam dicatatan klien sesuai dengan kebijakan lembaga.
Cara Menghitung Tetesan Infus :
a.       Dewasa :
Tetesan/Menit =
       Keterangan :
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro
Comoh Soal :
1.      Seorang pasien dewasa memerlukan rehidrasi dengan 1000ml (2 botol) infus dalam waktu satu jam, maka tetesan permenit ?
Jawab : Jumlah tetesan/menit =
2.      Berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam?
Jawab :
§  Jumlah cc Rl yang diberikan perjam : 500 cc ÷ 4 jam = 125 cc/jam
§  Jumlah cc RL yang diberikan per menit :
125 cc ÷ 60 = 2,083 cc/menit
§  1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro
Jadi 2,083 cc = (2,083 x 20) = 41,66 tetes makro
(2,083 x 60) 124,98 tetes mikro.

b.      Anak :
Tetesan/Menit =
            Contoh Soal :
1.      Seorang pasien neonatus memerlukan rehidrasi dengna 250 ml infus dalam waktu 2 jam, maka tetesan permenit ?
Jawab : Jumlah tetesan/menit =
2.4.2.      Mengukur Intake dan Output Cairan
            Pengukuran intake dan output cairan merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengukur jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh (intake) dan jumlah cairn yang keluar dari tubuh (output). Tujuan dari mengukur intake dan output cairan yaitu untuk menentukan status keseimbangan cauran tubuh klien dn juga untuk menetukan tingkat dehidrasi klien.
                        Prosedur :
a.       Tentukan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. Cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui air minum, air dalam makanan, air hasil oksidasi (metabolisme) dan cairan intrvena.
b.      Tentukan jumlah cairan yang keluar dari tubuh klien, cairan yang keluar dari tubuh terdiri atas urine, insensible water loss (IWL), feses, dan muntah.
c.       Tentukan kseimbangan cairan tubuh klien dengan rumus intake-output.
Keseimbangan Intake dan Output :
a. Rata-rata intake cairan perhari :
1). Air minum : 1500 - 2500 ml
2). Air dari makanan : 750 ml
3). Air hasil metabolism oksidatif : 300 ml
b. Rata-rata output cairan perhari :
                                1). Urine : 1-2 cc/kgBB/jam
                                2). Insensible water loss :
                                      - dewasa : IWL = 10-15 cc/kgBB/hari
                                      - anak-anak : IWL = 30-umur th cc/kgBB/hari
                                      - bila ada kenaikan suhu :
                                        IWL = 200 (suhu sekarang sampai 36,8oC)
      3). Feses : 100-200 ml





















CARA MENGHITUNG TETESAN INFUS

Posted: 22 September 2010 in Gizi Terapan, RUMUS GIZI
Kaitkata:Menghitung tetesan infus
Sebagai seorang praktisi gizi kita kadang dihadapkan untuk menghitung jumlah zat gizi pada pasien yang sedang diinfus. Menentukan jumlah tetesan infus dalam tiap menit kepada klien akan dapat membantu kita mengetahui berapa jumlah zat gizi yang dikandungnya. Untuk  mengerti dan memahami bagaimana menghitung jumlah tetesan infus , bisa anda pelajari kasus dibawah ini.

Contoh kasus
Dokter meresepkan kebutuhan cairan Nacl 0,9 % pada Tn A 1000 ml/12 jam. faktor drips (tetes) 15 tetes/1 ml. berapa tetes per menit cairan tersebut diberikan?
Strategi menjawab kasus
1. Ketahui jumlah cairan yang akan diberikan
2. konversi jam ke menit (1 jam = 60 menit)
3. masukkan kedalam rumus (Jumlah cairan yang dibutuhkan dikali dengan faktor drips, lalu dibagi dengan lamanya pemberian)
Jadi jawabannya adalah (1000 x 15)/(12 x 60) = 15.000/720 = 20.86 dibulatkan jadi 21
Cairan tersebut harus diberikan 21 tetes/menit.
Dengan mengetahui jumlah tetesan yang pada akhirnya kita akan tahu berapa ml cairan yang masuk ke pasien maka kita akan dapat mengetahui berapa zat gizi yang telah / akan diterima pasien dalam kurun waktu tertentu dengan cara membaca komposisi zat yang ada dalam cairan tersebut biasanya ada pada label kemasannya.
Terkadang kita agak kesulitan dalam menghitung tetesan infus yang akan kita berikan kepada seorang pasien, berikut tips2 nya
RUMUS
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro
contoh soal :
1. infus 500 cc diberikan kepada seorang pasien 20 tetes makro/ menit habis dalam berapa jam? jika dalam micro?
jawab : 1 cc = 20 tetes makro –> berarti pasien diberikan 1 cc/ menit
infus yang tersedia 500 cc –> = akan habis dalam 500 dibagi 60 menit = 8,333 jam
kalo dalam micro tinggal di kali 3 aja. jadinya = 24,99 jam.
2. berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam?
jawab : 500 cc dibagi 4 jam = 125 cc –> ini jumlah cc RL yang harus diberikan per jamnya
125 cc dibagi 60 = 2,083 cc / menit. ini jumlah cc RL yang harus diberikan per menitnya.
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro jadi 2,083 cc = (2,083 x 20) 41,66 tetes makro = (2,083 x 60) 124,98 tetes mikro

ALAT-ALAT PRAKTEK KEBIDANAN




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang

Peralatan  medis berkisar dari item yang sederhana seperti stik sampai peralatan yang lebih kompleks, seperti ventilator. Mereka mewakili beberapa teknologi yang paling inovatif yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah peralatan  medis didefinisikan setiap item yang digunakan untuk mendiagnosa, mengobati, atau mencegah penyakit, cedera, atau kondisi lain yang bukan obat, biologis, atau makanan. Amerika resmi Serikat (AS) definisi 'perangkat' istilah dapat ditemukan dalam Federal Makanan Obat & Kosmetik Act (1998) ditegakkan oleh Food and Drug Administration (FDA), sebuah lembaga dari Departemen Kesehatan dan pelayanan Manusia.  
Namun terlepas dari bagaimana peralatan baru , publik mengharapkan, dan Food and Drug Administration mensyaratkan bahwa peralatan medis aman, efektif, dan diproduksi sesuai dengan praktek manufaktur saat ini.Peralatan medis yang tunduk pada kontrol umum dari Undang-Undang Makanan, Obat, dan Kosmetik (Kode Peraturan, Federal 21 2010). Semua produsen harus mendaftarkan pendirian mereka, daftar semua jenis peralatan mereka berencana ke pasar, dan memastikan bahwa perangkat mereka diberi label sesuai dengan peraturan FDA label, sebelum clearance pemasaran diberikan.
  1. Tinjauan Literatur

Peralatan  medis didefinisikan setiap item yang digunakan untuk mendiagnosa, mengobati, atau mencegah penyakit, cedera, atau kondisi lain yang bukan obat, biologis, atau makanan.
Peralatan medis seringkali mengakibatkan efek-efek yang tidak diinginkan pada klien. Peristiwa yang merugikan adalah kejadian di mana peralatan medis telah, atau mungkin memiliki, menyebabkan atau berkontribusi pada kematian atau luka berat (FDA Kode Peraturan, Federal 21 2010). Masalah yang sering peralatan aktual atau potensial dan dapat terjadi karena beberapa alasan. Dua alasan sering dilaporkan kepada FDA melibatkan masalah peralatan (a) manufaktur dan (b)  interaksi manusia (faktor manusia). Faktor manusia disebut sebagai 'ergonomi dan faktor manusia rekayasa' fokus pada interaksi manusia-mesin (Bogner, 1994).
 Human Factors berdampak merugikan terhadap hasil pasien.
Salah perangkat / ukuran dalam paket / kotak Prosedur atau operasi yang tertunda
Kegagalan desain peralatan baru yang akan membuat Staf intuitif menjadi bingung dan / atau harus menebak apa yang harus dilakukan.
Kejelasan  monitor menampilkan data yang salah tafsir akan menyebabkan keputusan klinis didasarkan pada data yang salah.

BAB II
PEMBAHASAN

ALAT-ALAT PRAKTEK KEBIDANAN

Menggunakan Tensimeter
Cara menggunakan tensimeter dan mengukur tekanan darah adalah sebagai berikut :
1. buka tensimeter
2. geser jarum ke arah on agar air raksa naik
3. raba nadi yang ada di area mediana cubitti
4. pasang manset (sesuaikan dengan ukuran orang yang akan diukur tekanan darah nya, ttapi biasanya menggunakan manset ukuran adult/dewasa )
5. letak manset kira - kira sekitar 3 cm ditas nadi pada daerah mediana cubitti
6. pasang manset dengan pas (jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendor)
7. sebelum kita mengukur tekanan darah dengan auskultasi, maka sebaiknya kita lakukan sistolik palpatoar dulu, untuk mencegah adanya auskultasi gap, cara untuk melakukan sistolik palpatoar adalah :
a. letakkan 3 jari apa nadi di mediana cubitti, rasakan detakannya
b. pompa sampai nadi tak teraba, sambil mengamati pada angka berapa nadi tidak teraba
c. setelah itu, lepaskan pemompa, turunkan sampai habis
d. angka yang ditunjukkan pada saat nadi tak teraba adalah sistolik palpatoir, gunanya adalah untuk membatasi sampai mana kita memompa pasa saat kita melakukan pengukuran dengan auskultas
8. setelah ditemukan angka sistolik palpatoir, maka kita lakukan pengukuran dengan menggunakan auskultas
9. pasang stetoskop pada daerah nadi di mediana cubitti, setelah itu, pompa sampai angka sistolik palpatoir, lalu tambahkan angka 20-30
10. turunkan pemompa, amati suara dari stetoskop sambil mengamati angkanya
11. detakan yang didengar untuk pertama kali adalah sistolik, sedangkan detakan yang terakhir sebelum suara benar - benar hilang adalah suara diastolik
12. setelah itu, rapikan kembali agar pada saat nanti akan dipakai kembali bisa langsung dipakai
--- intrepetasi hasil pengukran tekanan darah ---
tekanan darah normal 120 - 140 untuk sistol
tekanan darah rendah < 120 tekanan darah tinggi > 140
tekanan darah baik itu tinggi maupun yang rendah sisertai karena banyak faktor antara lain :
1. umur
2. gaya hidup
3. Genetic

Menggunakan thermometer
  • ayunkan kuat-kuat dengan sentakan pada pergelangan tangan sampai thermometer menunjukkan angka kurang dari 36 derajat.
  • letakkan thermometer dibawah lidah dengan mengatupkan mulut atau dibawah lipatan ketiak jika khawatir thermometer tergigit. Biarkan thermometer berada disana selama kurang lebih 3 sampai dengan 4 menit.

  • ambil thermometer tersebut dan bacalah angka dimana air raksa berhenti yang menunjukan suhu tubuh yang diukur. Jika angka menunjukkan angka 37 maka suhu tubuh normal, jika angka menunjukkan antara 37 sampai dengan 40 maka termasuk panas, dan jika diatas 40 maka dikategorikan sebagai panas tinggi. Sebagai catatan, suhu lipatan ketiak cenderung lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengukuran dengan menggunakan mulut.

Memakai sarung tangan steril

·       Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
ü  Sarung tangan steril
ü  Wastafel/air mengalir untuk cuci tangan
ü  Handuk bersih
ü  Sabun
·                               Lepaskan cincin, jam tangan dan gelang
·                               Lakukan cuci tangan
·      Buka pembungkus kemasan bagian luar dengan hati-hati menyibakkannya ke samping
·      Pegang kemasan bagian dalam dan taruh pada permukaan datar yang bersih tepat diatas ketinggian pergelangan tangan.
·      Buka kemasan, pertahankan sarungtangan pada permukaan dalam pembungkus.
·      Identifikasi sarung tangan kanan dan kiri. Setiap sarung tangan mempunyai manset kurang lebih 5 cm (2 inci). Kenakan sarung tangan pada sarung tangan yang lebih dominan.
·      Dengan ibu jari dan dua jari lainnya dari tangan non dominan, pegang tepi manset sarung tangan untuk tangan dominan. Sentuh hanya pada permukaan dalam sarung tangan.
·      Tarik sarung tangan pada tangan yang dominan, lebarkan manset, pastikan bahwa manset tidak menggulung pada tangan, pastikan juga ibu jari dan jari-jari anda pada posisi yang tepat.
·      Dengan tangan yang telah memakai sarung tangan, masukkan jari di bawah manset sarung tangan kedua.
·      Tarik sarung tangan kedua pada tangan yang non dominan. Jangan  biarkan jari- jari dan ibu jari sarung tangan yang dominan menyentuh bagian tangan non dominan yang terbuka. Pertahankan ibu jari sarung tangan non dominan abduksi ke belakang
·      Jika sarung tangan kedua telah terpasang cakupkan kedua tangan, manset biasanya terbuka saat pemasangan. Pastikan untuk menyentuh bagian yang steril

Pita ukuran

·         Fungsi    : alat yang dipakai untuk mengambil ukuran badan untuk mengetahui ukuran yang diperoleh dan alat pengukur pada waktu menggambar pola besar.
·       Cara kerja   : menggunakan pita ukuran dengan melihat angka- angka yang diperoleh

      Gunting Benang

·           Fungsi     : Untuk menggunting benang atau bagian-bagian yang sulit digunting dengan gunting besar.
·       Cara kerja    : dengan menekan bagian gagang gunting

     Gunting zigzag

·       Fungsi    : Untuk menyelesaikan tepi bahan atau kampuh pada bahan yang   tidak mudah bertiras.
·       Cara kerja   : dengan memasukkan jari ke lubang gagang gunting yang ada dan menggunting bahan yang akan dipotong pada tepi kain.

Kegunaan Kateter

·         Melancarkan pengeluaran urin pada klien yang tidak dapat mengontrol miksi atau mengalami obstruksi pada saluran kemih.
·         2.    Memantau pengeluaran urine pada klien yang mengalami gangguan hemodinamik.
·         3.    Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih.
·         4.    Untuk pengumpulan spesimen urine.
·         5.    Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih.
·         6.    Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan .

Mengenal Instrumen Bedah Minor


Nald vooder/Needle Holder/Nald Heacting

  • Gunanya adalah untuk memegang jarum jahit (nald heacting) dan sebagai penyimpul benang.

Gunting

  • Gunting Diseksi (disecting scissor)
    Gunting ini ada dua jenis yaitu, lurus dan bengkok. Ujungnya biasanga runcing. Terdapat dua tipe yabg sering digunakan yaitu tipe Moyo dan tipe Metzenbaum.

  •  Gunting Benang
    Ada dua macam gunting benang yaitu bengkok dan lurus, kegunaannya adalah memotong benang operasi, merapikan lukan.

  • Gunting Pembalut/Perban
    Kegunaannya adalah untuk menggunting plester dan pembalut.

Pisau Bedah

  • Pisau bedah terdiri dari dua bagian yaitu gagang dan mata pisau (mess/bistouri/blade). Kegunaanya adalah untuk menyayat berbagai organ atau bagian tubuh manusia. Mata pisau disesuaikan dengan bagian tubuh yang akan disayat.

Klem (Clamp)

  • Klem Arteri Pean
    Ada dua jenis yang lurus dan bengkok. Kegunaanya adalah untuk hemostatis untuk jaringan tipis dan lunak.

  •  Klem Kocher
    Ada dua jenis bengkok dan lurus. Sifatnya mempunyai gigi pada ujungnya seperti pinset sirugis. Kegunaannya adalah untuk menjepit jaringan.

  •  Klem Allis
    Penggunaan klem ini adalah untuk menjepit jaringan yang halus dan menjepit tumor.

  •  Klem Babcock
    Penggunaanya adalah menjepit dock atau kain operasi.


Retraktor (Wound Hook)

  • Retraktor langenbeck, US Army Double Ended Retraktor dan Retraktor Volkman penggunaannya adalah untuk menguakan luka.


Pinset

  • Pinset Sirugis
    Penggunaannya adalah untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan penjahitan luka, memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi.

  •  Pinset Anatomis
    Penggunaannya adalah untuk menjepit kassa sewaktu menekan luka, menjepit jaringan yang tipis dan lunak.

  •  Pinset Splinter
    Penggunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-tepi luka ( mencegah overlapping).











Deschamps Aneurysm Needle

  • Penggunaannya adalah untuk mengikat pembuluh darah besar.


Wound Curet

  • Penggunaannya dalah untuk mengeruk luka kotor, mengeruk ulkus kronis.



Sonde (Probe)

  • Penggunaannya adalah untuk penuntun pisau saat melakukan eksplorasi, dan mengetahui kedalam luka.



Korentang

  • Penggunaannya adalah untuk mengambil instrumen steril, mengambil kassa, jas operasi, doek, dan laken steril.


Jarum Jahit

  • Penggunaanya adalah untuk menjahit luka yang dan menjahit organ yang rusak lainnya. Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampang segitiga agar lebih mudah mengiris kulit (scharpe nald). Sedangkan untuk menjahit otot dipakai yang berpenampang bulat ( rounde nald ).
Spekulum

  • Definisi : Alat yang berfungsi untuk melebarkan pembukaan vagina
  • Fungsi : di gunakan untuk membuka vagina.

      Setengah khocer

·         Definisi : adalah sebuah alat kesehatan yang di gunakan sebagai alat pemecah ketuban
·         Fungsi : Sebagai alat untuk memecahkan ketuban.

Pispot
·         Definis : adalah sebuah bejana yang diberi pegangan dan biasanya diletakkan di bawah tempat tidur di dalam kamar dan digunakan untuk buang air kecil di malam hari.
·         Fungsi : alat yang di gunakan sebagai tempat untuk buang air kecil.

Korentang
·      Definisi : Korentang atau Koorentang, disebut dalam bahasa dermannya: KORNZANGE. Kegunaannya: pada umumnya digunakan untuk menjepit dan mengangkat alat-alat bedah dari dalam instrument bak.
·      Fungsi : alat yang digunakan untuk menjepit dan mengangkat alat-alat bedah dari dalam instrument bak.

Nald vooder
  • Definisi : adalah jarum jahit untuk luka yang berbentuk melengkung, agak bergerigi.
  • Fungsi : - Untuk klem
           - Pengait jarum
Leanec
  • Definisi : adalah alat yang di gunakan untuk mendengarkan detak jantung bayi pada ibu hamil.
  • Fungsi : berfungsi untuk mendengarkan detak jantung bayi pada ibu hamil.

Tong spatel
  • Definisi : Nama lain untuk Tong spatel,adalah: tongue depressor atau penekan lidah.juga sering di sebut Tongue Blade (bahasa inggris) dan Zungenspatel (bahasa jerman).
  • Fungsi : untuk menekan lidah,agar dapat melihat lebih jelas keadaan di dalam tenggorokan, apakah ada kelainan-kelainan, misalnya ada peradangan seperti pharyngitis,amandel,dll
 BAB III
                                    PENUTUP

Kesimpulan
            Perawat mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keamanan klien khususnya akibat penggunaan alat medis. Untuk meminimalkan resiko atau efek penggunaan alat medis, maka perawat harus mempunyai pengetahuan yang cukup dalam mempergunakan alat tersebut dan juga mampu menangani atau melaporkan dengan segera bila terjadi kerusakan sehingga tidak mengakibatkan kerugian pada klien. Perawat mempunyai tanggung jawab dalam penggunaan alat medis yang aman bagi klien.


DAFTAR PUSTAKA

Abbey, J. & Shepherd, M. (1988).The Abbey-Shepperd device education model. Nursing and Technology: Moving into the 21stCentury Conference Proceedings. HHS FDA Publication No. 89-423, 41-53. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
American Nurses Association. (2009). ANA position statements. Retrieved November American Nurses Association. (2008). With long hours, staff woes nurses fear needlesticks. Hospital Infection Control, 92-93.
Association of Women’s Health, Obstetrical and Neonatal Nurses. (2010). Amniotomy and placement of internal fetal spiral electrode through intact membranes position statement. An official position statement of the Association of Women's Health, Obstetric & Neonatal Nursing. Approved by the AWHONN Board of Directors March 30, 2004. Reaffirmed June 2007. Revised and reaffirmed by the AWHONN Board June, 2009. Nursing for Women's Health, 13(6), 521. DOI: 10.1111/j.1751-486X.2009.01492.x
Association of Women’s Health, Obstetrical and Neonatal Nurses. (2000). The FDA meets with AWHONN. Fetal Heart Monitoring Principles and Practice: The Beat Goes On, 5(2), 2.
Bogner, M. (1994). Academic disciplines. In M. Bogner (Ed.), Human Error in Medicine (Introduction). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
Clifford, T. L. (2007). An introduction to the ASPAN position statement on perianesthesia safety. Journal of Perianesthesia Nursing, 22(6), 367-369
Code of Federal Regulations 21 Parts 800 to 1299. (2010, revised April1). Washington, DC: Office of the Federal Register, National Archives and Reco.rds Administration.
Dumais, M. (2003). Use error: A nurse’s perspective.Biomedical Instrumentation and Technology, 38(4), 313-315
            www.google.com
            www.wikipedia.com