KESEHATAN REPRODUKSI DAN KELUARGA BERENCANA



MAKALAH
KESEHATAN REPRODUKSI DAN
KELUARGA BERENCANA
“Asuhan Kesehatan Reproduksi
Pada Remaja”



Disusun oleh :
1.       IZHATI CHOIRINA
2.       DEWI UMARIAH NANDANI
3.       ALFIATUS ZAHRO
4.       JAMIYATUL KHUMAIROH
5.       KHAIRUR RISKIYAH
6.       KARIMATUL HASANAH




PRODI D-III KEBIDANAN
STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG
PAJARAKAN-PROBOLINGGO
TAHUN AJARAN 2012-2013
KATA PENGANTAR

A_BIS_2

A_ASSALM

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan kami makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca tentang Asuhan Kesehatan Reproduksi Pada Remajaserta untuk menyelesaikan tugas.
Ucapan terima kasih atas selesainya tugas ini dan semoga bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi pembaca. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada para staf dosen selaku dosen pengajar mata kuliah yang telah membimbing penyusunan malakah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

A_WASLM



A_WASLM
 
Genggong, 10 Maret 2013


Penyusun




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 2
2.1 Kesehatan Reproduksi Remaja.............................................................. 2
2.2 Tujuan Dan Program Kesehatan Reproduksi Remaja............................ 4
2.3 Sasaran Program Kesehatan Reproduksi Remaja................................... 6
2.4 Perkembangan Remaja........................................................................... 6
2.5 Perubahan Fisik Pada Remaja................................................................ 7
BAB III PENUTUP........................................................................................... 9
A. Kesimpulan.............................................................................................. 9
B. Saran........................................................................................................ 9



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
            Masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan seseorang, karena merupakan masa peralihan dari anak menjadi dewasa. Selain itu, remaja mengalami proses berkembang kearah kematangan atau kemandirian. Pada masa remaja sering kali muncul dorongan untuk mengetahui dan mencoba hal-hal baru dalam usahanya untuk mencari jati diri dan mencapai kematangn pribadi sesuai tugas perkembangannya.
            Perubahan yang paling menonjol dan memberikan dinamika psikologis yang besar pada proses tumbuh kembang remaja adalah kematangan organ reproduksi dan seksual. Kematangan ini ditandai dengan meningkatkannya hormone seks dalam darah yang berdampak pada perubahan fisik berupa munculnya ciri-ciri seks primer, sekunder serta perubahan psikologis berupa dorongan seksual (byer, 1991). Dorongan seksual akan mencetuskan ekspresi seksual dari yang sederhana berupa perasaan tertarik pada lawan jenis sampai yang kompleks, yaitu bersenggama dan berbagai bentuk penyimpangan seksual (wirawan, 2001).
 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
            Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Sedangkan disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia.
            Definisi kesehatan reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan social secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan system dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan (BKKBN, 2001).
            Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan visi, mental ,dan social yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta prosesnya.
                        Masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan seseorang, karena merupakan masa peralihan dari anak menjadi dewasa. Selain itu, remaja mengalami proses berkembang kearah kematangan atau kemandirian. Pada masa remaja sering kali muncul dorongan untuk mengetahui dan mencoba hal-hal baru dalam usahanya untuk mencari jati diri dan mencapai kematangn pribadi sesuai tugas perkembangannya.
            Berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual remaja cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hasil penelitian Byer (1991) di Amerika  menunjukkan bahwa remaja amerika telah melakukan hubungan seks sejak usia 18 tahun, laki-laki dewasa amerika rata-rata berhubungan dengan 6 pasangan berbeda, dan wanita dengan 2 pasangan berbeda. Dua puluh dua persen (22%) perempuan mengatakan pernah dipaksa melakukan kegiatan seksual oleh pasangan yang dicintainya, hanya 3% laki-laki yang pernah dipaksa. Hasil penelitian yang diselenggarakan oleh pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata, Universitas Gajah Mada 1999, didapatkan hasil bahwa banyak remaja Indonesia (60,3%) telah melakukan hubungan seksual.
            Gambaran prilaku seksual remaja dilihat dari hasil penelitian Wijaya (2001) terhadap 202 remaja usia 13-18 tahun pada bulan September 2001. Dari penelitian tersebut didapatkan 93% remaja pernah terlibat materi pornografi dalam derajat keterlibatan, 82% sekedar pernah, 10% sering, dan 1% setiap hari mengkonsumsi pornografi, serta yang mempihatinkan adalah 7% responden telah melakukan oral seks dengan alsan 100% responden melakukan karena terinspirasi dari VCD porno, 73% terinspirasi dari teman, 66% terispirasi dari internet dan 47% terinspirasi dari media cetak.
            Angka pernikahan dini (pernikahan remaja usia kurang dari 16 tahun) hamper dijumpai diseluruh provinsi di Indonesia. Sekitar 10% remaja putri hamil dan melahirkan anak pertamanya pada usia 15-19 tahun. Kehamilan remaja akan meningkatkan resiko kematian dan kesakitan 2-4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang menikah diusia 20 tahun. Angka kematian bayi 30% lebih tinggi dari bayi yang dilahirkan remaja berusia kurng dari 20 tahun (UNICEF, 2000)
            Masalah kesehatan reproduksi remaja yang terjadi di masyarakat di karenakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang adekuat tentang kesehatan reproduksi dan seksual, tidak memilikin akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan reproduksi  termasuk kontrasepsi, sehingga perempuan remaja rentan terhadap kematian ibu, anak, bayi, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual,  kekerasan/pelecehan seksual, HIV/ AIDS, dan kekerasan.
*      Memberi Layanan Dasar Pada Remaja
1.             Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan remaja dan wanita  pranikah
baik individu  maupun di masyarakat.
2.             Menentukan diagnosis.
3.             Menyusun rencana tindakan .
4.             Melaksanakan tindakan sesuai rencana.
5.             Mengevaluasi tindakan.
6.             Rencana tindak lanjut.
7.             Membuat catatan dalam laporan kegiatan / tindakan.
 
2.2 TUJUAN DAN PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
A. Tujuan
1.        Tujuan Umum
            Dengan adanya fakta bahwa fungsi dan proses reproduksi harus didahului oleh hubungan seksual, tujuan utama program kesehatan reproduksi adalah meningkatkan kesedaran kemandirian wanita dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya, termasuk kehidupan seksualitasnya sehingga hak-hak reproduksinya dapat terpenuhi, yang pada akhirnya menuju peningkatan kualitas hidupnya.
            Sehubungan dengan itu, sebagai remaja, lelaki atau perempuan memiliki hak reproduksi yang berupa memperoleh informasi yang tepat dan benar tentang reproduksi sehingga dapat berprilaku sehat dalam menjalani kehidupan seksual yang bertanggung jawab. Selain itu setiap laki-laki dan perempuan berhak mendapat informasi dengan mudah, lengkap, dan akurat mengenai penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.
2.        TUJUAN KHUSUS
            Dari tujuan umum tersebut dapat dijabarkan dalam 4 tujuan khusus, yaitu :
a.       Meningkatkan kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reaproduksinya
b.      Meningkatkan hak dan tanggung jawab social wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.
c.       Meningkatkan peran dan tanggung jawab social pria terhadap perilaku seksual dan fertilitasnya pada kesehatan dan kesejahteraan .
d.      Dukungan yang menunjang remaja untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan proses reproduksi berupa pengadaan informasi dan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mencapai kesehatan reproduksi secara optimal.
            Tujuan diatas ditunjang oleh undang-undang No.23/1992, BAB II pasal 3 yang menyatakan : “ penyelenggaran upaya kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajatkesehatan yang optimal bagi masyarakat”, dalam BAB III pasal 4 “setiap orang mempunyai Hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal”.
B. Program dan kegiatan strategis kesehatan reproduksi remaja
1.      Meningkatkan kuantitas PIK KRR
Meningkatkan advokasi dan KIE KRR di provinsi dan kabupaten/kota :
a)      Bhakti social program KRR (Harganas, Hari AIDS, Kemah bhakti, hari remaja).
b)      Advokasi KRR/ PIK KRR kepala kelompok remaja  (KNPI, Pramuka, Remaja masjid/gereja dll)
c)      Keluarga melalui BKR (Bina KEluarga Remaja)
d)     Organisasi masyarakat (PKBI, Fatayat NU, Aisyiah dll )
e)      Sector Pemerintahan ( Diknas, Depkes, Depag, Depsos dll)
f)       KIE KRR melalui media massa (TV, Radio, Media tradisional, dll)
2.      Meningkatkan kualitas Pengelola dan Pelayanan Program Kesehatan Reproduksi Remaja/ PIK-KRR:
a)                            Memberdayakan SDM Pengelolah dan pelayanan Program PIK KRR :
1)        Workshop Pengelolah PIK KRR ( Ketua, Pendidik Sebaya, dan konselor sebaya)
2)      Workshop Pengelola Program KRR dan Pokja PIK KRR
3)      Study banding Pengelolah Program KRR  dan Pokja PIK KRR
4)      Konsultasi bidang KR-KB  (Kobid)  dan konsultasi Seksi (Kosi)
5)      Orientasi Pengelola Program KRR dan Pokja PIK KRR
6)      Pelatihan bagi Pengelola Program KRR dan Pokja PIK KRR
7)      Ajang prestasi PIK KRR
8)        Lomba PIK KRR
9)        Fasilitas dan monitoring Program KRR dan Pokja PIK KRR
b)                            Meningkatkan kualitas materi SDM :
1)        Penyusunan dan pengembangan materi SDM
2)        Penggandaan dan distribusi materi KRR
3)        Pemutahiran weside
4)        Operasionalisai PIK/KRR online
5)        Produksi AVA materi KRR
c)                            Mengembangkan PIK/KRR percontohan/unggulan/center of excellent
1)        Kembangkan PIK /KRR percontohan/unggulan/center of excellent
2)        Pembentukan dan pengembangan PIK /KRR sasaran khusus (wilayah percepatan)
3)        Tukar pengalaman pengelolah dan pelayanan PIK/KRR
3.      Meningkatkan kemitraan program PIK/KRR
1)        Workshop keterpaduan program KRR dengan mitra kerja
2)        Pengembangan MOU  program KRR dan KNPI (PKBI)
3)        Operasionalisasi MOU program KRR dan KNPI,fatayat NU,Muhammadiyah/aisyiyah,BBN.
4)        Pengembangan PIK KRR di perguruan tinggi
5)        Koordinasi dan keterpaduan dalam perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi Program KRR dengan lintas sector
6)        Fasilitasi program KRR dengan mitra kerja.

2.3                 SASARAN PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
a)      Diberi penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi yang diawali dengan pemberian pendidikan seks
b)      Membantu remaja dalam dalam menghadapi menarche secara fisik, psikis, social dan hygiene sanitasinya.

2.4 PERKEMBANGAN REMAJA
                   Keluarga, sekolah, dan tetangga merupakan aspek secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya lingkungan merupakan aspek yang memberikan pengarus secra tidak langsung terhadap kehidupan remaja. Secar garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja, yaitu internal pressure (tekanan dari dalam diri remaja) dan eksternal pressure (tekanan dari luar diri remaja)
      Tekanan dari dalam merupakan tekanan psikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orang tua , guru, dan masyarakat merupakan sumber dari luar. Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi.


2.5                 PERUBAHAN FISIK PADA REMAJA
            Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut pubertas. Seperti yang dikemukakan oleh santrock (1993). Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atau biasa disebut ‘pertumbuhan’ dan kematangan seksual sebagai hasil dari pertumbuhan hormonal.
            Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda. Coleman dan Hendry (1990) dan Walton (1994) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10,0-13,5 tahun sedangkan pada remaja putri terjadi pada usia 9,0-15,0 tahun. Bagi anak laki-laki perubahan itu di tandai oleh perkembangan pada organ seksual, mulai tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah. Sedangakan pada remaja putri pubertas di tandai denga menarche (haid pertama), perubahan pada dada (mammae ), tumbuhnya rambut kemaluan, dan besar nya panggul. Usia menarche rata-rata juga berfariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun.
            Dari beberapa penelitian sejak 100 tahun terakhir menunjukan bahwa ada kecenderungan semakin cepatnya remaja mengalami menarche. Pada tahun 1860 rata-rata usia remaja mengalami menarcheadalah 16 tahun 8 bulan dan pada tahun 1975 umur 12 tahun 3 bulan. Adanya penurunan umur menarche tersebut disebabkan karena adanya perbaikan gizi, perbaikan pelayanan kesehatan, dan lingkungan masyarakat. Semakin cepat seseorangmengalami menarche tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi.
            Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan :
1. Mulai menstruasi.
2. Payudara dan pantat membesar.
3. Indung telur membesar.
4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
5. Vagina mengeluarkan cairan.
6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
7. Tubuh bertambah tinggi.
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap.
2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
3. Tumbuh kumis.
4. Mengalami mimpi basah.
5. Tumbuh jakun.
6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
7. Penis dan buah zakar membesar.
       Perubahan psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab, yaitu :
1. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya.
2. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua.
3. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri.
4. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya.
Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya.

 

BAB III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
·         Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan visi, mental ,dan social yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta prosesnya.
·         Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan :
1. Mulai menstruasi.
2. Payudara dan pantat membesar.
3. Indung telur membesar.
4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
5. Vagina mengeluarkan cairan.
6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
7. Tubuh bertambah tinggi.
·         Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap.
2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
3. Tumbuh kumis.
4. Mengalami mimpi basah.
5. Tumbuh jakun.
6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
7. Penis dan buah zakar membesar.

B. SARAN
            Sebagai seorang bidan asuhan reproduksi remaja merupakan salah satu hal yang wajib dilaksanakan dalam proses pemerataan kesehatan.

Akibat Olahraga Dengan Perut Kosong

Olahraga memang banyak manfaatnya, salah satunya membuat tubuh tetap bugar dan menurunkan berat badan.
Tapi bila Anda melakukannya di pagi dengan perut kosong, olahraga bukannya memberi manfaat baik, tetapi malah efek negatif.

Saat tidur, tubuh sudah dibiarkan tidak makan selama 6 hingga 8 jam.
Bila Anda langsung mengajaknya olahraga saat bangun pagi, tubuh akan kehilangan tenaga dan dapat memberikan dampak negatif.

Begitu pula sebaliknya, berolahraga setelah makan juga dapat menyebabkan kram perut, mual dan muntah. Biarkan sarapan Anda dicerna dengan menunggu 30 menit sampai 1 jam setelah makan sebelum berolahraga.




Berikut akibatnya bila Anda melakukan olahraga pagi hari dengan perut kosong


1. Kram

Ketika Anda bangun di pagi hari, tubuh mengalami dehidrasi. Anda harus mengonsumsi cairan sebelum berolahraga untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut, yang dapat menyebabkan kram otot.

2. Pingsan

Kadar gula darah rendah di pagi hari dapat terjadi jika seseorang tidak makan untuk waktu yang lama. Jika Anda berolahraga dengan perut kosong, hal ini dapat menyebabkan Anda pingsan.

Orang dengan diabetes atau hipoglikemia berisiko paling tinggi pingsan berolahraga tanpa sarapan dulu. Pingsan juga dapat terjadi ketika tubuh tidak terhidrasi dengan benar sebelum berolahraga.

3. Hilangnya massa otot

Berolahraga dengan perut kosong dapat menyebabkan hilangnya massa otot. Tubuh membutuhkan karbohidrat untuk membakar lemak. Ketika bangun di pagi hari dari istirahat malam, tubuh telah kehabisan stok karbohidrat di hati. Jika karbohidrat tidak tersedia, tubuh menggunakan massa otot untuk bahan bakar untuk membantu memecah lemak.

Berolahraga 30 menit setelah konsumsi makanan memungkinkan tubuh untuk menggunakan karbohidrat yang dikonsumsi untuk bahan bakar untuk membakar lemak dan mempertahankan massa otot.

4. Metabolisme melambat

Jika Anda melewatkan sarapan dan melakukan olahraga, energi yang digunakan selama latihan menambah defisit energi. Pada titik ini, tubuh telah cenderung bergeser ke ketosis, yaitu proses di mana metabolisme melambat untuk menyimpan energi lebih lama.

Kelaparan mungkin menghilang untuk waktu yang singkat, tapi akhirnya menyebabkan sensasi rasa lapar terasa lebih berat. Sensasi lapar ini berkontribusi pada makanan berlebihan.




Guru Wajib Ikut Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Guru wajib mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG)  sebab  seorang  sarjana pendidikan (S.Pd) masih belum bisa disebut sebagai guru sebelum lulus dari PPG dan sertifikasi guru nanti. Sehingga, seluruh S.pd diwajibkan mengenyam kembali bangku kuliah sebelum terjun menjadi guru.

Hal itu akan secara otomatis dibarengi pemberian gelar profesi kepada guru yakni title Gr. Gelar profesi itu menambah panjang gelar akademik sebelumnya, yakni SPd. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh mengatakan pemberian gelar profesi guru itu terjadi setelah yang bersangkutan lulus PPG.  Namun ditekankan olehnya yang paling penting dari PPG ini adalah pendalaman ilmu yang dimiliki calon guru

guru-wajib-ikut-ppg

"Sama seperti lulusan kedokteran. Gelarnyakan S.ked (gelar akademik, red), itu mereka masih belum boleh nyuntik. Makanya,mereka harus mengambil pendikan profesi biar jadi gelar dr (gelar profesi) di depan. Sama, guru kan juga profesi seperti dokter," tutur Nuh kemarin.

Dalam PPG nanti, bahan ajar yang akan diberikan akan lebih terfokus pada praktek mengajar. Hal ini diharapkan bisa memperbaiki praktek mengajar guru yang ada di Indonesia. Dengan lama PPG pun akan disamakan dengan pendidikan profesi lainnya, yakni 1-2 tahun.

Sementara untuk guru-guru S.pd yang ada saat ini, Nuh akan memberikan waktu untuk proses penyesuaian. "Yang udah ngajar kita akan kasih waktu," tandasnya
Sumber: jpnn.com

Masuk Sekolah Lebih Siang Dongkrak Prestasi Siswa, Benarkah?

Benarkah masuk sekolah lebih siang akan mendongkrak prestasi siswa? Mengapa jam sekolah yang lebih siang justru lebih ampuh meningkatkan performa akademik remaja? Penyebabnya adalah karena jam tubuh remaja bekerja dua hingga empat jam di belakang jam tubuh orang dewasa. Dari informasi ini, diketahui bahwa jam mulai sekolah yang berbeda menghasilkan perkembangan siswa yang juga berbeda.

Dari beberapa penelitian memiliki kesimpulan di luar dugaan. Memulai jam sekolah remaja lebih awal ternyata kurang bermanfaat dibanding dengan memulainya lebih siang. 

Metode pembelajaran yang terpaku pada papan tulis, guru, atau buku rupanya bukan yang paling baik. Jam mulai sekolah yang lebih siang, memainkan musik, dan permainan selama pelajaran justru merupakan cara potensial untuk mendongkrak performa akademik remaja.

masuk-sekolah-siang-dongkrak-prestasi

Sarah-Jayne Blakemore, ilmuwan saraf dari University College London mengatakan bahwa penelitian mengenai durasi belajar terlihat sangat menjanjikan. Pasalnya remaja mengalami pergeseran jam tubuh sehingga sulit terjaga pada pagi hari dan sulit tidur pada permulaan malam. Mereka cenderung tidur larut malam dan bangun lebih siang.

"Ritme sirkadian atau jam tubuh berubah pada usia pubertas," kata Blakemore, seperti dilansir laman Daily Mail, Rabu (19/2).
"Sebelum pubertas, anak-anak paling mudah bangun dan terjaga di pagi hari dan mereka sudah mengantuk pada permulaan malam. Saat pubertas, terjadi hal sebaiknya, jadi para remaja kesulitan tidur di malam hari," katanya lebih lanjut.

Pergeseran jam tubuh remaja ini terjadi hingga usia 21, dan kemudian perlahan pola itu mulai berbalik seperti semula. Dan saat berumur 50 tahun, orang bisa dengan mudah bangun pagi seperti anak-anak. 

Beberapa sekolah telah melakukan percobaan, mereka memulai jam sekolah lebih awal. Tetapi bukti yang kuat menunjukkan bahwa hal tersebut kurang bermanfaat.

Kini penelitian itu berlanjut untuk menyelidiki apakah kelas pada akhir pekan bisa meningkatkan pembelajaran anak. Mereka juga meneliti apakah memainkan musik dan permainan di dalam ruang kelas bisa mendongkrak kemampuan otak remaja. Hal lain yang juga diteliti adalah apakah membagi durasi pelajaran menjadi potongan-potongan kecil ada manfaatnya.
Sumber : jpnn.com